Cuaca Minggu (06/07) pagi di Desa Budaya Pampang, Kecamatan Samarinda Utara lumayan cerah . Kawasan yang kental dengan citra pelestarian adat dan eksotisme budaya Dayak pagi itu dipenuhi oleh ratusan pasang tangan yang siap “kotor”.
Mereka tidak sedang bersiap untuk menggelar tarian adat, melainkan membawa misi ekologis yang besar: menanam kehidupan baru melalui program ESG Climate Action: 2.000 Pohon untuk Kalimantan Timur.
Gerakan yang diinisiasi oleh Konsorsium Gerbangtara melalui platform solusi iklim ENABLE Project ini menjadikan Desa Budaya Pampang sebagai perhentian ketiga. Setelah sebelumnya sukses menghijaukan Kabupaten Paser dan Kota Balikpapan, riak kolaborasi ini akhirnya sampai di Samarinda.
Tujuannya jelas, mengawinkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dengan aksi nyata di lapangan melalui komitmen yang akan dirawat bersama berbagai mitra selama satu tahun penuh.
Sinergi yang terbangun di lapangan terasa begitu hidup. Gerbangtara tidak berjalan sendirian; mereka menggandeng World Cleanup Day Kalimantan Timur sebagai mitra pelaksana lokal.
Di sudut lain, keterlibatan sektor swasta mewujud nyata lewat dukungan PT Pegadaian Samarinda yang ikut andil melalui skema adopsi pohon—sebuah bukti bahwa korporasi dapat berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
Hari itu, sebanyak 100 bibit pohon produktif—mulai dari rambutan, rambai, jambu, hingga petai—mulai membumi di tanah Pampang. Bagi Gerbangtara, aksi ini bukan sekadar seremonial “tancap pohon lalu ditinggal pergi”.
Program ini dirancang dengan cetak biru yang ketat: memastikan setiap pohon dipantau, dipelihara, dan dilaporkan dampaknya secara berkala selama satu tahun ke depan di lima wilayah Kalimantan Timur, termasuk Kutai Kartanegara, Kutai Barat, dan Penajam Paser Utara.
Koordinator Konsorsium Gerbangtara, Aie Natasha, yang berdiri di antara para relawan, menegaskan filosofi di balik gerakan kolaboratif ini.
“Kami ingin menunjukkan bahwa aksi iklim tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Karena itu, ESG Climate Action dibangun sebagai ruang kolaborasi yang memungkinkan setiap pihak berkontribusi sesuai kapasitasnya, mulai dari masyarakat, komunitas lokal, pemerintah, hingga sektor swasta. Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari jumlah pohon yang ditanam, tetapi dari kemampuan memastikan pohon tersebut tumbuh, memberikan manfaat, dan menciptakan dampak jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat,” ujar Aie dengan optimis.
Aie memandang bahwa keberlanjutan adalah kunci utama. Oleh sebab itu, pemantauan berkala setiap tiga bulan akan terus dilakukan demi memastikan transparansi dan akuntabilitas program di setiap tapak implementasi.
“Kami ingin membangun model aksi iklim yang akuntabel dan terukur. Karena itu, setiap pohon yang ditanam akan dimonitor secara berkala dan pada akhir program kami akan menyusun laporan dampak yang mencakup aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi. Dengan demikian, para mitra dapat melihat secara nyata manfaat yang dihasilkan dari kolaborasi ini,” lanjutnya.
Ia juga menyoroti betapa krusialnya peran dunia usaha dalam mendukung pemulihan lingkungan di daerah melalui skema adopsi pohon yang telah dimulai oleh Pegadaian.
“Keterlibatan sektor swasta menjadi elemen penting dalam memperkuat implementasi ESG di daerah. Dukungan PT Pegadaian Samarinda menunjukkan bahwa dunia usaha dapat mengambil peran aktif dalam menciptakan dampak positif bagi lingkungan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat. Kami berharap semakin banyak perusahaan yang bergabung untuk membangun solusi iklim yang berkelanjutan di Kalimantan Timur,” Tambah Aie.
Suasana penanaman semakin hangat saat Staf Khusus Presiden Republik Indonesia Bidang UMKM, Ekonomi Kreatif, dan Teknologi Digital, Tiar Nabilla Karbala, ikut turun ke dalam barisan relawan.
Sembari menanam pohon secara simbolis, Tiar mengaku terkesan dengan energi segar yang dibawa oleh para penggerak lingkungan ini.

“Yang membuat saya terkesan adalah kegiatan ini dimotori oleh anak-anak muda. Mereka menjadi inovator, katalisator, sekaligus penggerak yang menghubungkan berbagai pihak untuk menghadirkan program yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Model kolaborasi seperti ini perlu terus diperkuat karena mampu menciptakan dampak nyata dan melibatkan masyarakat secara langsung,” ungkap Tiar hangat.
Langkah kaki para peserta kemudian membawa mereka ke dalam sebuah sesi diskusi lingkungan yang intim.
Di sana hadir Misman, sosok bersahaja penerima Kalpataru Kategori Perintis Tahun 2023. Di hadapan 105 peserta yang datang dari 42 institusi berbeda—mulai dari akademisi, komunitas, media, hingga sektor swasta dan praktisi Lingungkungan Misman melontarkan sebuah refleksi mendalam.
Misman mengajak semua yang hadir untuk memahami pentingnya menjaga sumber daya air. Baginya, Samarinda perlu dipandang sebagai sebuah “Kota Air” yang memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga sungai, rawa, kawasan resapan, dan berbagai ekosistem pendukung kehidupan sebagai aset penting bagi masa depan kota.
Melihat tingginya antusiasme yang membakar semangat hari itu, Koordinator World Cleanup Day Kalimantan Timur, Fatur, tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya.
Baginya, pemandangan ini adalah buah dari benih kepedulian yang sudah disemai lewat jejaring akar rumput sejak lama.
“Kegiatan ini melibatkan relawan dari berbagai segmen masyarakat. Ini merupakan hasil dari jejaring kolaborasi yang telah terbangun sejak World Cleanup Day Kalimantan Timur berdiri pada tahun 2018. Kami melihat semakin banyak generasi muda yang peduli dan berani mengambil peran dalam menjaga lingkungan,” tutur Fatur.
Matahari perlahan meninggi di atas Desa Budaya Pampang, meninggalkan jejak lubang-lubang tanah yang kini telah terisi kehidupan baru.
Melalui ESG Climate Action, Konsorsium Gerbangtara bersama para mitra tidak sekadar menanam pohon produktif, tetapi sedang merajut sebuah model masa depan: sebuah solusi iklim yang kolaboratif, terukur, dan berkelanjutan demi memastikan ketahanan lingkungan Kalimantan Timur tetap terjaga hingga generasi mendatang.
