Environment and Tourism Talks

Fishery Youth Tour 2022, Nikmatnya Jelajahi Wisata Bahari Kaltim

Fishery Youth Tour 2022

Hamparan senyuman peserta program Fishery Youth Tour 2022 tak pernah lelah mengembang, melayani setiap tatapan  demi tatapan peserta lainnya yang datang silih berganti, Jumat sore (4/11/22) itu.

Selama dalam perjalanan, kami terlihat akrab saling bercerita mengenai mimpi yang sama, membayangkan sejenak kehidupan  di atas pulau, yang berada  di tengah laut perairan Bontang, Kalimantan Timur.   

Dan beruntunglah, sebanyak 138 Mahasiswa peserta  program Fishery Youth Tour (FYT) 2022, yang digelar Himpunan Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan (Himasuper) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unmul (FPIK), berhasil wujudukan mimpi kami?

Iya mimpi merasakan bagaimana kerasnya kehidupan Nelayan pesisir. Dan sekaligus mampu menggenapkan keinginan berwisata ria di tengah pulau, menatap lebih dekat wajah asri lautan, dan juga merasakan denyut gelombang yang menyisir lembut  ke pesisir pantai pulau.

Pembukaan Fishery Youth Tour 2022 di Kampus FPIK Unmul I Dokpri
Pembukaan Fishery Youth Tour 2022 di Kampus FPIK Unmul I Dokpri

Dan meskipun  belum saling kenal, para peserta FYT 2022 yang datang dari lintas latar belakang Fakultas di lingkungan Kampus Universitas Mulawarman, tetap tulus memberikan senyuman, dan  saling bahu-membahu membopong perlengkapan mereka, kala perjalanan berhenti di Bontang Kuala.

Dimana  peserta FYT 2022  harus bermalam sejenak, sembari menyeruput santapan makan malam yang digelar di bibir laut Bontang Kuala. Dan bersiap, mengistirahatkan diri, menuju tujuan utama di keesokan harinya, untuk berwisata  di ketiga pulau itu.

FYT 2022 yang dimulai dari tanggal 4 sampai 6 November 2022, akan menghantarkan  peserta FYT 2022 ke pulau Malahing, Pulau Selangan City, dan pulau Beras Basah, Bontang Kaltim

Jelajah Kampung Melahing, Kampung Nelayan di atas pulau Karang

Mentari  Sabtu pagi, (4/22) sudah siap menyambut peserta FYT 2022  di Dermaga Bontang Kuala, untuk bergegas berlayar ke pulau Malahing, melalui jalur laut, menggunakan tiga kapal Carteran.

Semua logistik dan peralatan peserta  FYT 2022 jelajah wisata bahari, harus detail diperhatikan, jangan sampai ada yang tertinggal. Karena di kampung Malahing, peserta akan menghabiskan waktu satu harian, dan lantas bermalam untuk merasakan benar kehidupan Nelayan pesisir pulau di sana.

Dan selama 45 menitan berlayar ke tengah laut dari Bontang Kuala, akan terlihat bangunan kampung nelayan, dengan pondasi tiang kayu ulin yang menyapa kapal kami, kala mendekatinya. Kampung Malahing, adalah kampung Nelayan yang berdiri di atas pulau karang, yang berada  di tengah lautan.

Lantas, membayangkan menapakkan kaki di atasnya, kita pasti mudah rasanya membayangkan akan  masuk ke dalam portal masa lalu saja kan? Dimana kehidupan di tengah laut, terasa  akan sulit menemukan kenikmatan berinternetan ria, untuk membagikan kegembiraan di laman media sosial kita?

Tapi beruntungnya, langit Bontang begitu baik, untuk mampu melimpahkan fasilitas internet yang layak ke penjuru wilayahnya. Sehingga harapan menemukan kegembiraan itu akan benar-benar mudah terwujudkan di sana.

Kala baru saja berhasil meng-upload video dan poto tentang indahnya perjalanan di atas kapal. Kami harus bersiap kembali membopong tas yang berisi peralatan tempur berwiisata itu naik kembali ke atas pulau, iya sesaat setelah kami sampai ke pulau Malahing.

Dan beruntunglah, suasana pagi menjelang siang itu, juga menyisakan kondisi air laut yang mulai nampak pasang. Dan peserta FYT 2022 masih berkesempatan untuk melihat dasar pulau yang terbentuk oleh kerasnya batu karang itu dengan jelasnya.

Sesekali, bintang laut dan bulu babi terlihat malu bersembunyi di samping batu. Ada pula lambaian rumput laut mampu menyembunyikan tubuh ikan-ikan kecil di dalamnya. Rasanya kamera Ponsel di genggaman ini, tak mau lelah menyorotnya, mencuri angle terbaik, untuk memanen banyak ikon like di laman media sosial.

Lantas, di sana, peserta FYT 2022  bertemu dengan Pak Nasir, sang tokoh kampung Nelayan, yang konon adalah founding-father kampung Malahing.

Dan dalam sesi pertemuan singkat itu, dia bercerita tentang sejarah kampung nelayan yang sudah berdiri kokah di pulau karang, dan berada tengah lautan itu.

Jadi ceritanya,  sekira tahun 2000-an, pak Nasir yaang seorang  perantau asal Sulbar itu, memutuskan membangun sebuah rumah sederhana di atas pulau Karang seorang diri, untuk memudahkan aktivitasnya menangkap ikan menggunakan alat tangkap Belat. Karena zona perairan Bontang kaya akan biota laut macam Teripang yang bernilai ekonomis tinggi, dan juga wilayahnya sangat cocok untuk budidaya rumput laut.

Nah melihat  potensi itu, seiring perjalanan waktu, pak Nasir berinisiasi menjadikan Pulau itu menjadi lumbung produksi komoditas laut, untuk memasok kebutuhan masyarakat Bontang yang tinggal di darat. 

Pak Nasir mengajak kerabatnya untuk memaksimalkan potensi itu, dengan membangun rumah bak sebuah kampung di tengah laut yang 2022 ini dihuni 50 KK, yang bernama kampung Malahing itu.

Merasakan kehidupan yang lebih baik di Kampung Malahing

Lain dahulu pastilah lain pula sekarang, Kampung Malahing terus berbenah melayani kehidupan Nelayan menjadi lebih baik?

Di sana para peserta FYT 2022 berhasil merasakan pasokan energi bersih langsung dari panel PLTS.

Membuktikan kenyataan itu, rasanya kampung Malahing sudah melangkah lebih dahulu, untuk menjalani transisi energi ya? Yang tak –lagi– hanya mengandalkan energi fossil saja, dan mudah melahirkan polusi udara.

Keberaadaan Perusahaan besar yang beroperasi di sekitar Kampung Melahing memang terbukti sudah menjadi kunci menghadirkan perubahan kehidupan Nelayan Melahing untuk menjadi lebih baik lagi.

Itu artinya, para peserta FYT 2022, tidak perlu cemas kehabisan pasokan energi ponselnya, untuk terus sigap menangkap momen terbaik ketika berada di sana. Dan terpenting lagi, peserta tidak akan merasakan gelapnya malam, kala  menginap semalam saja di sana.

Keseruan waktu siang kami, dijejali banyak pengetahuan baru, dan mengerti tentang sebuah kesederhanaan yang ternyata masih saja berlaku di dalam kehidupan kita?

Dimana lemparan senyuman khas Nelayan masih loyal kita dapatkan, dan mengajarkan ketulusan itu mudah  menjadikan senjata utama menjalani kehidupan kini dan  di masa depan.

Dan poinnya lagi, dengan kesederhanaan itu, tak disangka memampukan mereka berinteraksi ke dunia luar, dalam menawarkan hasil olahan komoditas laut berupa hasil olahan Teripang, ikan, serta rumput laut yang dijajakan secara online, melalui laman medis sosial kampung Malahing.

Duh menyaksikan semua itu, membuktikan jika Ruang dan waktu rasanya tidak harus menjadi pembatas untuk merubah kehidupan Nelayan menjadi lebih bernilai. bukan? Ini pasti  akan menjadi semangat baru buat peserta FYT 2022, yang jua Mahasiswa untuk harus mampu jua berkreasi dalam banyak hal?

Perlahan, air laut mulai meninggi tergerus oleh waktu. Namun suasana menjelang malam hari, berhasil memberikan pemandangan syahdu, dan meyakini betapa luasnya dunia ini kan?

Peserta FYT 2022 berkumpul di lapangan beralaskan lempengan kayu ulin, sembari menikmati makan malam, untuk saling bercengkrama mengenali peserta satu dengan lainnya.

Sehingga akhirnya kini peserta FYT 2022 mengetahui secara pasti jua, siapakah pemilik senyuman yang melemparkan ke arahnya waktu kali pertama bertemu? Dan siapa tahu, senyuman itu berhasil menjadi mimpi indah bermalam di pulau Malahing kan? Ya siapa tahu.

Merasakan atraksi alam di Selangan City

Minggu pagi (5/22), sang mentari sudah menunggu peserta FYT 2022 untuk terus melanjutkan jelajah wisata bahari selanjutnya ke pulau selangan City.

Iya selangan City ya sama seperti  pulau karang yang  membentuk sebuah kampung Nelayan jua, dan persis seperti pesona pulau Malahing.

Namun usia peradaban Nelayan yang tinggal di selangan City lebih lama  daripada kehidupan di Malahing. Dimana sejak dulu,  para Nelayan sudah menjadikan pulau Selangan sebagai  tempat favorit beristirahat, setelah seharian lelah mencari ikan di tengah lautan.

Beruntungnya, posisi pulau selangan city, terapit oleh pulau besar yang kaya akan tumbuhan Mangrove, dan memiliki alas karang yang terbentang luas, mendatangkan kekayaan akan biota laut.

Dan Nelayan yang tinggal  di pulau karang Selangan City juga diberi amanah untuk ikut mengelola potensi keindahan karang laut, untuk tujuan wisata komersil.

Menjelang sore hari, rasanya adalah waktu yang tepat, bagi para wisatawan yang hendak bersenokling ria di dasar karang,  mengintip biota laut berkeliaran mencari makan.

Menjadi saksi akan perjalanan itu, menanggalkan, pengetahuan baru, dimana kehidupan Nelayan yang lebih baik pun ternyata semakin dapat mudah terwujud, atas  modal lingkungan laut yang lestari kan?

Terlebih fasilitas umum seperti air bersih yang berhasil diolah dari limpahan air hujan, juga hadirnya aliran listrik PLTS, lantas terbangunnya sekolah dasar, dan  juga jaringan internetan yang makin melengkapi kebutuhan dasar Nelayan yang hdup di sana.

Tentu saja, dengan fasilitas itu, makin pula membuka celah bagi nelayan yang hidup di tengah Pulau untuk dapat terus memaksimalkan semua potensi Sumber Daya Alam pesisir, dengan mudahnya.

Tanpa jua harus meninggalkan gaya kesederhanaan serta  kebudayaan  bahari yang jua bernilai mahal, dan mampu menjadi ikon bangsa Indonesia sejak lama.

Namun mampukah kita meneladaninya ya? Ah akan menjadi pekerjaan rumah saja, untuk diselesaikan, setiba pulang nanti, bukan?

Pulau beras basah adalah kunci kegembiraan peserta FYT 2022

Kami tidak berlama-lama  di Selangan City karena terbatasnya  waktu, dan peserta FYT 2022 harus bergegas ke pulau Beras Basah, yang jua menjanjikan keseruan pesona pantai lainnya yang apik untuk berfoto ria.

Menjelang siang, kapal peserta FYT 2022 segara menghantarkan kami, berlayar selama 30 menitan, berangkat pada pukul 11.00 WITA untuk merapat ke Dermaga Pulau beras Basah, yang jua masih berada di perairan Bontang.

Peserta FYT 2022, pastilah tak akan menyiakan kesempatan untuk berada disana nanti. Dan pasti mereka sudah bersiap menyiapkan alat-alat berenangnya, sekaligus merasakan gelombang pantainya yang lembut.

Dan beruntunglah jika porsi waktu untuk berada di pulau beras basah amatlah panjang hingga sore pukul 16.00 WITA, dan menyakini porsi waktu itu akan mampu menjadi obat jenuh selama menjalani aktvitas di kampus.

Nah, pulau Beras Basah,  akan menjadikan sebuah tempat perenungan yang asik  bagi peserta FYT 2022, untuk mampu bersyukur kepada Tuhan YME, atas limpahan  pesona Sumber Daya Alam perairan  yang sangat melimpah itu.

Dimana peserta FYT 2022 juga telah berhasil menjadi saksi atas hal itu.

Fishery Youth Tour, sebuah campaign mencintai wisata bahari Kaltim

Fishery Youth Tour yang mulai digelar di 2019 lalu memang hanya menargetkan peserta Mahasiwa internal Kampus FPIK saja.

Namun dalam perjalanannya, keberhasilan program FYT terus mampu menjadi inklusif untuk menjaring peserta dari lintas Fakutas yang ada di Universitas Mulawarman.

Program Fishery Youth Tour 2022, yang berhasil dilaksanakan sebanyak 4 kalinya di tahun-tahun sebelumnya, juga akan terus menjadi candu Mahasiswa. Dan FYT 2022 akan menegaskan, jika tanggung jawab menjaga alam laut kita,  ada di tangan generasi muda! Iya Mahasiswa dari lintas latar belakang pendidikan manapun.

Harapannya, pengalaman FYT 2022 bagi peserta akan mampu menjadikan sebuah inspirasi baru, untuk  Mahasiswa mampu berkreasi dalam menjalani rutinitas sebagai Mahasiswa, sesampainya di Kampus nanti.

Duh, berharap program Fishery Youth Tour akan berlangsung kembali di tahun-tahun berikutnya, dengan rute perjalanan wisata bahari yang lebih menantang lagi, bukan?

Oleh sebab itu, persiapkan dirimu, hai Mahasiswa Unmul untuk bergabung di program  Fishery Youth Tour berikutnya ya?

error: Content is protected !!