Tourism and Environment Talks

Memanja Ekonomi IKN Kaltim Via Sustainable Investing

Burung rongkang khas Kalimantan, yang merindukan sustainable investing

Dewasa ini, banyak perusahaan migas negara-negara di Eropa mulai memperbesar dan mengalihkan fokus bisnisnya ke Energy Terbarukan (ET), lewat skema Sustainable investing. Lalu, apakah benar semua Perusahaan besar itu kini telah tersadar, ingin melihat Bumi lebih bersih? Sementara Profit mereka pastilah tergangu dengan keputusan itu kan? Lalu benarkah Sustainable investing mampu memanja ekonomi dan bumi kita ke depan ya?


Sudah hukum alam, jika eksploitasi pastilah mengundang proses degradasi pula kan? Hal tersebut, bisa lekas kita lihat di dalam kehidupan nyata. Ya lewat hadirnya berbagai kejadian bencana alam yag terjadi dahulu, hingga kini.

Daerah kaya dengan hasil bumi, cenderung –malah- berlomba mengeruk Sumber Daya Alam (SDA), guna memutar ekonomi daerahnya melesat cepat dan tinggi.

Namun pada suatu masa, proses degradasi alam akan tiba hadir dan -terbiasa- menuntut biaya pemulihan yang luar biasa besarnya, sebagai kompensasi eksplotasi SDA selama itu.

Wah, aktivitas eksploitasi SDA kini bak buah si malakama saja ya? Jika dibiarkan sayang, diekspolitasi jua cenderung –mampu- mendatangkan kemalangan!

Bukit suharto yang perlu uluran tangan model sustainable investing
Sisa kebakaran hutan di jalur Bukit Suharto yang kerap disinyalir hadrinya pembukaan areal tambang Batu bara I Dokumen pribadi

Nah, hati kecil kita bisa saja lantas spontan bertanya lagi, mampukah kini kewenangan Hak Otonomi Pemerintah Daerah kita, mampu mengoreksi para Koorporat SDA bersama menerapkan prinsip-prinsip ESG, lewat sustainable investing?

Dimana standart ESG yang meliputi dimensi Enviromental (lingkungan), Social (sosial) dan juga Governance (tata kelola), diharapkan dapat menantang masalah-masalah yang sedang inn dewasa ini.

Yakni ya mampu mengurai masalah-masalah pengurangan polusi udara, polusi plastik di lautan, mendukung produksi pangan berkelanjutan serta penyediaan askes pendidikan dan kesehatan yang berkualitas di lingkungan masyarakat.

IKN Kaltim dan tantangannya dalam penerapan prinsip ESG Koorporat!

Awal 2021 lalu, kabar bencana banjir besar yang terjadi di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) ramai tersiar di media-massa. Karena dampak banjir tersebut sudah berhasil merendam banyak daerah Kalsel.

Selanjutnya, adalah faktor cuaca hujan yang ekstreem dan terpotretnya fenomena degradasi lingkungan yang telah terjadi lama, menjadikan opsi penyebab bencana banjir besar tadi.

Dan bisa saja salah satu opsi diantara keduanya benar, bisa jua salah? Meski kini akhirnya keduanya –bahkan- sudah mampu menciptakan perdebatan sengit yang tidak pernah usai kan? Terlebih lagi hal tadi, sudah pula berbaur pada dimensi politik praktis.

Aroma negatif atas masalah kebencanaan yang disebabkan akibat semua tindakan eksploitatif itu -bisa saja- sangat tidak diharapkan bagi sebuah Koorporasi, untuk bisa survive melakukan bisnisnya lebih lama!

Nah, Provinsi Kaltim dam Kalsel, menurut saya adalah ‘saudara kembar’ yang memiliki karakter aktivitas ekonomi daerah yang sama-sama berpacu pada aktivitas ekploitasi pertambangan Batu bara.

Sebagai warga daerah yang berdomisili di Kaltim, saya ingin sekali mengajak kita semua meraba dan merasakan insight atas manfaat dan dampak negatif  dari aktivitas ekploitasi yang luput jua dilakukan oleh banyak daerah di Kalimantan ini.

Dan pada akhirnya, insight ini bisalah menjadikannya cermin besar untuk Pemerintah daerah beserta para Koorporasinya di sana untuk mampu bersikap.

Dalam artian, bersikap dalam konteks menyepakati skema sustainable investing Koorporasi (investasi keberlanjutan) yang diharapkan mampu berimbas positif jua pada kemajuan ekonomi daerah dan juga keberlangsungan bumi kita ini.

Eksploitasi Batu bara, buah si malakama bagi Kaltim?

Kaltimkece.id dahulu pernah menyarikan insight aktivitas batu bara Kaltim pada rentang 14 tahun, sejak 2004 hingga 2017 lalu. Dimana produksi batu bara Kaltim pada 2004 tercatat 113 juta ton, dan Produksi pada 2017 naik dua kali lipat menjadi 244 juta ton.

Dari tren selama 14 tahun itu, Kaltim mencatatkan dirinya sebagai produsen batu bara yang menyuplai 40 persen produksi batu bara secara nasional.

Jika ditotal seluruh produksi batu bara Kaltim, dalam rentang waktu tersebut mencapai 2.68 miliar ton.

Ah Itu belum seberapa? Karena tahun 2016 lalu, Pemprov Kaltim juga merilis jika deposit batu bara Kaltim diketahui mencapai 12.45 miliar ton, itu –memang- belum masuk jumlah deposit yang belum terdatat/diketahui, dan pastilah berjumlah banyak sekali.

sustainable investing bagi perusahaan pertambangan Kaltim
Komoditas batu bara yang meintasi sungai Mahakam setiap saat I Dokumentasi Pribadi

Artinya, jika berhitung kekayaan Kaltim atas komoditas Batu bara dengan menggunakan asumsi tren produksi selama itu beserta jumlah depositnya tadi, bisa saja diperkirakan SDA batu bara Kaltim akan ludes dalam waktu kurang-lebih 50 tahun mendatang.

Jika dikonversi ke dalam nilai produk bruto dari total produksi batu bara selama 14 tahun tadi, sudah tercatat senilai Rp 2.680 triliun. Kita lekas saja, penasaran tentang berapa sih asumsi keuntungan bersih yang diterima akumulasi Koorporat pertambangan batu bara yang beroperasi di Kaltim sendiri ya?

Nah, jika kita menggunakan laporan laba-rugi dua tahunan terakhir PT Bukit Asam saja, sebagai asumsi perbandinganya. Dimana pada tahun 2018 PT Bukit Asam meraup pemasukan sebesar Rp 21.16 Trilliun, dengan laba bersih Rp 5.12 Trilliun.

Sementara 2017 pendapatan perusahan PT Bukit Assam Rp 19.4 Trilliun dengan laba bersih Rp 4.5 Triliun. Tren Rasio perbandingan laba bersih dengan pendapatan kotornya, bisa mencapai kurang-lebih 24%.

Asumsi itu bisalah menjadi jawaban singkat, atas pertanyaan keuntungan bisnis pertambangan batu bara di Kaltim. Dimana total keuntungan bersih yang bisa didapatkan akumulasi koorporasi pertambangan di Kaltim atas asumsi tadi sebesar Rp 642 Triliun.

Namun pertanyaannya kemudian, apakah keuntungan tersebut setimpal dengan apa yang diberikan perusahaan tambang yang terimbas lubang-lubang yang berserakan di wilayah pertambangan Kaltim kini?

Dimana disinyalir lubang-lubang tambang itu menjadi masalah besar penyebab bencana banjir/tanah longsor yang juga selalu menghantui banyak daerah di Kaltim?

Jika, mencermati lagi, riset dari lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Lambung Mangkurat dimana pernah melakukan riset mengenaoi berapa besar biaya reklamasi dan vegetasi di 4 perusahaan di Kaltim.

Riset tersebut mengatakan, jika Perusahaan batu bara harus mengeluarkan sekitar Rp 32 juta sampai Rp 60 juta per hektarenya bagi kegiatan reklamasi dan vegetasi di area eks- batu bara. Namun komponen harga itu, belum termasuk penutupan lubang-lubang tambang atau Back filling.

sustainable investing memerlukan tindakan nyata dalam mereklamasi lahan eks tambang
Proses reklamasi lubang tambang I Dokumentasi pribadi

Pertanyaan selanjutnya, ya mengapa tidak sekalian menutup lubang tambangnya saja ya?

Tentu jawaban Koorporasi pertambangan akan membenturkannya pada kecukupan pembiayaannya, yang sudah direncanakan oleh manajemen, dalam hal memaksimalkan keuntungan koorporasi, guna memanja para investor Perusahaan kan?

Nah jika melihat asumsi atas insight ‘kasar’ bisnis perusahaan batu bara yang menggeliat di Kaltim tersebut. Kita bisa saja mengatakan sangat ironis betapa faktor lingkungan dan masalah sosial masyarakat sekitar, akan terus terimbas kegiatan Koorporasi penambangan tersebut kan?

Dimana kehadiran banyak Koorporasi pertambangan –hanya- terkesan memberikan manfaat ekonomi sesaat saja, dan menularkan banyak kerugian pada sisi sosial dan lingkungan, kini dan di kemudian hari, jika tidak beroperasi lagi.

Artinya lagi, kita pastilah akan meyakini, jika dua sisi yakni sisi positif dan negatif akan terus mengintai atas kehadiran banyak koorporasi pertambangan yang beroperasi di mana saja!

Dan pertanyaan pamungkasnya adalah, adakah cara menyeimbangakan kedua hal tersebut yakni mengharmonisasikan elemen ekonomi dan elemen bumi?

Sehingga menjadikannya win-win solusi atas pencapaian atas konteks-konteks perputaran ekonomi, sekaligus menjamin keberlanjutan lingkungan kita yang lebih baik lagi?

Efek negatif pertambangan batu bara, dan apa yang seharusnya dilakukan?

Adalah fakta! Jika energi merupakan hal terpenting dalam kehidupan modern manusia, termasuk ya manfaat komoditas batu bara tadi kan?

Terlebih, saat ini kebutuhan energy seperti listrik masih dipasok dari bahan fosil, yakni sumber daya alam yang tak terbaharukan.

Nah, dalam dunia bisnis, pastilah memiliki dua jenis resiko dalam menjalankan operasionalnya kan? Terlebih bisnis energy ini, yang sangat padat modal!

Pertama, adalah resiko bisnis yakni jenis resiko yg terjadi karena perilaku operasi dari bisnis itu sendiri, seperti resiko operasional. Sehebat apapun keahlian manusia dalam mengelola, resiko kegiatan -drilling misalnya- di industri pertambangan tetap-lah tinggi.

Kedua, Resiko keuangan adalah jenis resiko terkait dengan bagaimana sebuah perusahaan mengelola portfolio utang mereka. Berbeda dengan resiko bisnis, resiko keuangan dapat diatur tergantung dari kecakapan tim manajemennya.

Selain probabalitas keberhasilan eksplorasi dari bisnis energy tak terbaharukan –yang- hanya sekitar 20%, harga komoditas pertambangan juga tergantung dari dinamika pasar dan percaturan politik dunia. Ini mengakibatkan hanya sedikit institusi keuangan yang mau mendanai eksplorasi di industri pertambangan ini.

Lubang  lubang tambang yang memerlukan langkah sustainable investing di masa depan
Lubang tambang di areal Bendang Samarinda yang menjadi danau I Dokumentasi pribadi

Lewat hal itu, jika kita mau menyambungkan pada praktik yang sudah dan sedang terjadi di lapangan, tentu akan sangat menarik untuk diketahui!

Dimana masalah degradasi lingkungan terutama masalah pengelolaan limbah, lantas menjadi konsekuensi Koorporasi atas semua aktivitas operasionalnya itu.

Hal yang perlu dilakukan atas dampak operasional Koorporasi pertambangan Kaltim!

Nah, seperti yang telah diceritakan sebelumnya di atas, jika aktivitas pertambangan batu bara selalu saja berkelindan dengan masalah penelantaran areal eks-lahan tambang, berupa lubang tambang yang tidak ditimbun kembali.

Lantas, ya alasan pembiayaan menjadi jawaban klasik Koorporasi untuk menagkisnya kembali kan?

Lalu, menarik lagi angka-angka dalam bisnis koroporasi yang dijelaskan dalam awal tulisan, pastilah terlalu penting guna memecahkan masalah di lapangan yang terikat managemen faktor resiko ESG tadi kan?

Dan, malangnya, selama ini –memang- banyak Koorporasi pertambangan –hanya- mengandalkan dana CSR daripada pola sustainable investing untuk memulihkan permasalahan sosial dan lingkungan.

Dan program CSR itu hanya bersifat filontropis kepada masyarakat, yang selama ini –pula- tidak meninggalkan efek keberlanjutan pada lingkungannya, setelah operasionalnya berakhir.

Dan ketika bencana datang, asumsi degradasi atas eksplotasi itulah yang akan berimbas pada masalah tata kelola (Governance) Perusahaan, yakni tergerusnya kepercayaan para investor terhadap perusahaan tadi.

Nah menurut saya, dalam konteks ini sudah saat-nya Perusahaan pertambangan di area Kaltim memiliki agenda sustainability –keberlanjutaan- pada lingkungan di sekitar operasionalnya, yang pastilah memuat prinsip ESG yang kita singgung tadi.

Misalnya dengan mempersiapkan dan menargetkan agenda-agenda ekonomi-sirkular kepada masyarakat sekitar.

Dimana skema tersebut dapat dengan mudah dilakukan lewat pendampingan pelatihan keterampilan masyarakat sekitar. Dengan harapan, agenda tersebut tidak melulu memberikan dana CSR yang bersifat sementara bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

Terlebih pelatihan itu, mampu memberikan keterampilan dalam mengelola limbah Perusahaan yang dihasilkan, dan mampu menambahkan value lain terhadap produk baru yang lahir.

Terlebih lagi Koorporasi telah mampu membentuk kelembagaan masyarakat yang menjamin keberlangsungan agenda-agenda perusahaan tadi.

Wujudnya, bisa saja berupa kegiatan pendampingan masyarakat dalam pelatihan budidaya perikanan dan pertanian di areal eks-lahan tambang. Dimana konsekuensi hadirnya lubang tambang bisa di-minimalisir lewat hadirnya aktivitas warga sekitar, mengelola eks-lahan pertambangan dengan memproduksi produk dengan bernilai lebih.

Dan dari agenda tersebut, masyarakat bisa bahu-membahu memperbaiki kualitas lingkungannya dengan menanam vegetasi, dan juga aneka komoditas pertanian jua di dalamnya. Teknis-nya tentu dilakukan dengan berbagai ragam cara dan metode khusus kan?

Nah jika diamati, di areal titik lubang tambang yang terdapat di daerah Kukar Kaltim, -misalnya- banyak juga masyarakat sudah berinisiatif menyulap lubang-lubang tambang menjadi tempat rekreasi wisata alam nan eksotis.

Ini juga bisa menjadi alternatif, yang terus mampu dikembangkan dalam skema sustainable investing tersebut. Utamanya bisa menjadi medium, menjajakan semua hasil produk pertanian dan kerajinan masyarakat di sana.

Nah, lewat agenda penerapan ekonomi sirkular –misalnya- yang dilakukan secara kontinue, tentu saja bisa memberikan dampak positif bagi lingkungan, sosial serta tata-kelola perusahaan secara profesional.

Meski, dana yang dibutuhkan –memang- relatif besar dan mampu menggerus sisi keuntungan Perusahaan semata.

Dan tentu memulai itu semua perlulah didahului denegan banyak analisis data yang dapat memberikan rekomendasi yang efektif atas managemen faktor ESG Perusahaan, agar mudah dilaksanakan di lapangan.

Mengapa ESG teramat penting untuk dilaksanakan ya?

ESG  adalah sebuah standar perusahaan dalam praktik investasinya yang terdiri dari tiga konsep atau kriteria

Pertama, karena kriteria Lingkungan –Enviromental- mampu menjadi pertimbangan utama Perusahaan melakukan performa finansial dan operasi yang tinggi namun bersifat keberlanjutan dan tidak merusak alam.

Kedua, kriteria sosial –Social- akan mampu berusaha mendalami hubungan baik antara masyarakat luar dengan perusahaan, maupun antara pekerja, pemasok produk, pelanggan, komunitas dan sebagainya.

Ketiga, kriteria tata kelola –Governance- Perusahaan akan membahas kapasitas dan legimitasi Perusahaan, hubungan internal, kontrol internal, hak-hak investor dan sebaginya.

Dalam konsep sustainable investing yang berbasis prinsip ESG tadi, tentu bisa menjadikan penawar dalam menghadapi permasalahan tunggal yang kerap dialami banyak koorporat, yakni lingkungan, sosial, dan juga tata kelola yakni manajemen internal Perusahan.

Nah dalam praktiknya, ada tiga strategi yang perlu dikerjakan Perusahaan  dalam  mendapatkan, mengelola dan mengkomunikasikan resiko ESG itu dan melahirkan pola sustainable investing.

1. Berinteraksi dengan investor

Investor tentu memiliki varian skenario tangung jawab sosial, dan seharusnya hal tersebut mamapu dijadikan kompilasi  pertimbangan untuk meramu hal terkait resiko ESG Perusahaan.

2. Konsultasikan dengan spesialis ESG

Perusahaan bisa mulai bermitra kepada spesialis ESG, lewat banyak pertemuan atau koferensi ESG dan selanjutnya bisa mengumpulkan kebijaksanaan spesialisnya itu, untuk menjadi pertimbangan tindakan selanjutnya. Atau terlebih mampu mempekerjakan konsultan yang dapat membantu membentuk strategi manajemen resiko ESG.

3. Membuat proses pemetaan indeks ESG

Koorporasi juga perlu mengidentifikasi KPI yang sejalan dengan resiko ESG dengan strategi dan target keuangan mereka. Dan hal ini bisa mulai dilakukan melalui pemetaan materi ESG.

CESGS, solusi perusahaan memenuhi tantangan Sustainable-Investing!

Dalam praktiknya penerapan ESG Perusahaan, tentu memiliki banyak varian cara yang harus jua dikondisikan pada karakter Koorporatnya.

Nah, Center For Enviromental, Social and Governance Studies atau CESGS,  bisa menjadi sandaran banyak Perusahaan untuk meramu hal apa saja yang terkait dengan upaya pengendalian operasional tadi, dan berhubungan erat pada hal pengolahan  limbah industrinya.

Akhirnya, Lewat rekomendasi yang diolah dari penelitian para akademisi CESGS. Perusahaan akan terbiasa, dan akhirnya mampu menerapkan praktik dimana bisnis dan investasinya mampu mengintegrasikan dan mengimplementasikan kebijakan perusahaannya yang mengena pada konsep Sustainable investing.

Sustainable investing merupakan kunci bagi agenda lingkungan ke depan
Sustainable investing merupakan kunci bagi agenda lingkungan ke depan

Photo Cover By @exotickaltim

error: Content is protected !!