Tourism and Environment Talks

Mengandalkan Air Lubang Tambang Batubara Untuk Masa Depan Kita

Taman Gubang, memanfaatkan air lubang tambang

Tidak ada banyak air di bumi sama sekali.”

— David Gullo, Ahli Kelautan di Woods Hoel Oceanographic Institution (WHOI) Massachussets

Bersyukurlah, bagi kita yang –masih- bermukim di wilayah hutan lestari pedesaan ya? Di sana pastilah menghadirkan banyak aliran sungai yang memberikan harapan kehidupan nan layak.

Namun siapa dapat menerka sampai kapan sungai tadi bertahan terus-menerus mengalirkan limpahan air permukaannya untuk kita?

Ah mendapati pertanyaan itu, akan mampu pula membujuk kita menengok sekilas peta dunia kan? Dan membuktikan fakta, jika –memang- air telah mendominasi bumi kita ini.

Dan rasanya hal itu bisa menjadi alibi, jika ya memang tidak ada yang mengkhawatirkan soal ketersediaan air untuk kita kan?

Namun dari banyak hasil penelitian terungkap,  jika ternyata limpahan air di bumi yang kita lihat barusan di peta tadi adalah sebuah fatamorgana belaka.

David Gullo, Ahli kelautan di Woods Hole Oceanogrpahic Institution (WHOI) Massachusetts, pernah menganalogikan jika bumi hanyalah sebuah Apel, lapisan airnya lebih sedikit dari kulit buahnya.

Analogi tadi lantas dibuktikan oleh laporan Live science pada 9  September 2010 lalu. Dimana hasil survei Geologi AS (USGS) menyebut sekitar 72% permukaan bumi tertutup air, dan 97% nya adalah air laut yang tak layak diminum.

Nah bisa kita hitung ternyata hanya 3 %-an saja cadangan air bisa kita nikmati sebagai sumber air tawar layak untuk mampu menjamu kehidupan kita kelak? Itupun hanya 1% saja yang mudah diakses oleh manusia.

Indonesia patut bersyukur, karena bersama 5 negara lainnya, yakni Brasil, Rusia, Kanada Cina dan Kolombia menguasai 50% dari cadangan air layak di dunia itu.

Sungai Mahakam menjadi alternatif kegiatan termasuk medium mengangkut komoditas batu bara ke laut I Dokumentasi Pribadi @aal_arbie

Namun, harus diingat lajunya ancaman perubahan iklim dewasa ini, yang ditenggarai masiffnya pembangunan eksplotatif SDA dan perilaku manusia. Semuanya itu tak akan membendung ancaman ketersediaan air di masa depan kan?

Jika –masih- kurang percaya. Ya lihat saja proses degradasi ketersediaan air yang sudah ada di depan mata kita.

Proses intrusi air laut misalnya yang makin massif mencemari sumber air permukaan di bumi. Lainnya kita bisa mendapati berkurangnya spot wilayah yang menampung air permukaan, yang kini luasannya berkurang karena dijadikan alas pembangunan.

Belum lagi, masalah serius pencemaran air. Dimana sungai sudah dianggap sebagai tempat pembuangan limbah manusia dan industri yang paling praktis dan ekonomis.

Artinya, ancaman ketersediaan air permukaan, yakni air yang terkumpul di atas tanah atau di mata air, sungai, danau serta lahan basah, ya tetap saja akan menjadi permasalahan serius kita kini untuk segera dipecahkan!

Oleh sebab itu, perlu kesadaran dan persiapan kita dalam upaya menghargai ketersediaan air permukaan, ya demi keberlangsungan kehidupan di masa depan kan?

Nah sampai titik ini, saya yakin pastilah kita yes ingin segera menunjukkan bagaimana rasa peduli kita untuk menghargai ketersediaan air sekarang juga! Lewat cara versi kita masing-masing kan?

SDA Kaltim, IKN dan ancaman ketersediaan air

Maka nikmat mana lagi yang Kaltim dustakan sih? Ungkapan itu saya rasa layak disematkan kepada Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), yang saya pijak kini.

Hamparan alas rimba Kaltim, yang bisa dinikmati di jalur darat Kabupaten Kukar- Kota Samarinda I Dokumentasi  Pribadi
Hamparan alas rimba Kaltim, yang bisa dinikmati di jalur darat Kabupaten Kukar- Kota Samarinda I Dokumentasi Pribadi

Kaltim adalah salah satu provinsi dengan segudang SDA di wilayahnya. Jejak ekonominya bisa kita ikuti dari kegiatan eksploitasi produk kehutanannya yang meraja di masa orde baru.

Dan kini Kaltim terus aktif menjaja komoditas SDA unggulan lainnya, yakni komoditas batu bara yang menggeliat pada masa pasca reformasi . Ya tentunya eksploitasi tadi hadir lewat urgensi Hak Otonomi Daerah yang melekat pada semua daerah kini.

Dampak manis ekonomi yang diraih Kaltim atas eksploitasi SDA lantas juga menghadirkan pula dampak buruk yang merambah lingkungan. Keduanya bak dua sisi mata uang saja yang selalu beriringan, dan -memang- terjadi juga di belahan dunia mana saja.

Nah, Kaltim saya anggap, bisalah menjadi representasi daerah-daerah lain di Kalimantan, dengan karakter wilayah yang berkelindan dengan kekayaan SDA berupa hutan, migas dan bahan mineral. Dan semua daerah di Kalimantan itu tentulah memiliki semangat yang sama, yakni ingin menafsirkan Hak Otonomi Daerah, dalam mengoptimalkan SDA, dan memburu istilah kesejahteraan bagi warganya.

Dan lihatlah kini, hasil eksploitasi kekayaan Kaltim sudah mampu menukarkannya ke dalam kurs pembangunan yang significant. Dan akhirnya menciptakan peradaban modern masyarakat Kaltim lewat infrastruktur yang layak.

Dan selanjutnya Peradaban modern di daerah, bisalah menjadikan secuil gambaran dari istilah kesejahteraan masyarakat yang diimpi-impikan sejak lahir.

BPS mencatat dalam kurun waktu 14 tahun, dari 2004 sampai tahun 2017, Kaltim sudah mengeruk 2,68 miliar ton batu baranya. Jika dikonversi menjadi pundi materi, total eksploitasi batu bara selama itu mencapai Rp 2.680 Triliun (1 USD = Rp 14.000)

Modal itu pastilah menjadi pelumas pembangunan yang sangat penting sekali, dan juga diimpikan oleh banyak daerah lainnya, untuk jua memilikinya.

Singkapan batu bara yang terlihat di sepanjang jalan Palaran I Dokumntasi Pribadi
Singkapan batu bara yang terlihat di sepanjang jalan Palaran I Dokumentasi Pribadi

Klimaknya, dari kencangnya pembangunan yang terjadi Kaltim tadi, terutama pembangunan infrastruktur serta pembangunan ekonomi masyarakatnya. Kesemuanya itu tadi sudah pula menasbihkan salah satu daerah di Provinsi Kaltim menyabet predikat Ibu Kota Negara (IKN) baru Indonesia nanti.

Jalan Tol pertama di Kalimantan yang menghubungkan Samarinda - Samarinda I Dokumentasi Pribadi
Jalan Tol pertama di Kalimantan yang menghubungkan Samarinda – Samarinda I Dokumentasi Pribadi

Dan, dengan fakta itu, -malah- harusnya kita semakin tersadarkan. Jika predikat IKN itu pastilah akan menyebabkan beban baru bagi Kaltim, dalam konteks memelihara eksistensi ketersediaan pasokan air yang kita singgung di awal tulisan tadi. Baik dalam skup daerah, nasional dan global.

Terlebih jika Kaltim akan –masih- tetap fokus dan bermanja ria mengais SDA-nya untuk menyokong kebutuhan ekonominya di mada depan.

Tambang batu bara jejak eksploitasi yang mengancam air permukaan?

Wahyu Wilopo, beliau adalah pakar Geologi Universitas Gajah Mada pernah menyebut jika secara topografi, struktur batuan lipatan yang terdapat di Kaltim akan membuat ketersedian air melimpah.

Namun dia juga menambahkan jika kualitas air di Kalimantan –memang- tergolong air asam. Hal ini dikarenkan IKN Kaltim dan Kalimantan –umumnya- menjadi alas komoditas SDA batu bara.

Dan hal tersebut diperdalam lagi oleh salah satu penelitian, yang diterbitkan Jurnal ITEKNA tahun 2015. Hasilnya menyebut jika kualitas air sungai Patangkep di Banjarmasin –misalnya- yang berada dekat lokasi pertambangan Kalsel, pernah tergolong cemar-sedang.

Hasil analisis uji laboratorium yang dilakukan di tahun 2013 menyebut kondisi perairan sungai Patangkep di Banjarmasin memiliki pH yang rendah di bawah 6. Sedangkan kandungan SO4 tinggi sebesar 390.61 mg/liter dan kandungan logam berat lainnya seperti fe sebesar 0.504 mg/liter dan Mn sebesar 3.815 mg/liter.

Hamparan lubang tambang yang mudah kita temukan di jalur darat Samarinda -Balikpapan I Dokumentasi Pribadi, Foto diambil 10 Maret 2021
Hamparan lubang tambang yang mudah kita temukan di jalur darat Samarinda -Balikpapan I Dokumentasi Pribadi, Foto diambil 14 Maret 2021

Penelitian itu ingin mengatakan, jika tingkat pencemaran air permukaan yang dekat lokasi penambangan batubara sangat berpotensi terjadi.

Hal itu disebabkan oleh  proses kontiminasi antara batuan dasar/material yang terekspose dengan udara dan air, baik air dari lokasi penambangan maupun air hujan.

Selanjutnya, logam berat yang terdapat dalam timbunan over-burden maupun batu bara akan mudah beroksidasi dengan dengan mineral-mineral sulfida, sehingga menimbulkan potensi air tambang asam.

Kondisi itulah yang sebenarnya mengundang potensi terjadinya pencemaran air di sekitar area pertambangan, dan menjadikan airnya tidak layak dikonsumsi, atau dimanfaatkan secara maksimal.

Sampai di sini pastilah kita akan meragu lagi, apakah layak ya ketersediaaan sumber air permukaan yang ada di Kaltim menyokong peradaban baru masyarakat IKN, dan daerah-daerah lain di Kaltim nanti?

Jika potensi air permukaan berpotensi tercemar dengan aktivitas pertambangan dan pembangunan daratan rimba Kalimantan yang kian massif saja?

Memampukan IKN dan masyarakat menghargai air?

Menelusuri narasi di atas, kita akan mampu –lagi- bersepakat dong! Jika jejak ekonomi Kaltim yang sudah memanja komoditas SDA yakni batu bara tentulah meninggalkan dampak nagatif pada lingkungan.

Dan seterusnya-seterusnya tentu akan menyokong lajunya perubahan iklim global, akibat berkurangnya alas rimba bagi  usaha eksplotatuif SDA.

Dan muaranya lagi-lagi pastilah mengancam keberlangsungan pasokan air permukaan yang layak, seperti air sungai, danau dan rawa yang terdapat di sekitar lokasi pertambangan di Kaltim khususnya. Dan pastilah pengulangan kata-kata di atas bisa menjadi kata kuci yang kita catat dalam tulisan ini ya? Yakni menantang sikap kita untuk mampu menghargai air permukaan kita!

Dan –terpenting- kini yang menjadi atensi publik masyarakat Kaltim dan kita semua adalah terbengkelainya area lubang-lubang tambang yang berserakan pasca operasi tambang. Dan membuat lahan eks tambang menjadi menganggur, dan mengundang air asam memenuhi area kedalaman lubang-lubang tambang tadi!

Pemandangan lubang tambang yang terekam di jalur Bukit Suharto Kaltim I Dokumen Pribadi, Diambil 10 Maret 2021
Pemandangan lubang tambang yang terekam di jalur Bukit Suharto Kaltim I Dokumen Pribadi, Diambil 14 Maret 2021

Berbagai kasus bencana kemudian hadir silih berganti di sekitaran wilayah lubang tambang itu. Mulai dari korban tenggelam warga sekitar, sampai hadirnya dugaan jika lubang tambang sudah mengurangi fungsi daerah resapan air, dan akhirnya diduga menjadi penyebab hadirnya banjir Kalsel awal 2021 lalu misalnya.

Riset dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Lambung Mangkurat, pernah menyebut kisaran biaya untuk mereklamasi lahan eks tambang. Berdasarkan sample penelitian di 4 perusahan tambang di Kaltim, biaya vegetasi dan reklamasi mencapai Rp 32 juta sampai Rp 60 juta per hektare. Biaya itu belum termasuk biaya penutupan lubang tambang lho

Pradharma Rupang aktivis LSM Jatam Katim juga pernah menyebutkan jika terdapat sekitar 1.735 lubang tambang yang berserakan di Kaltim dengan luasan sekira 1,32 juta hektare, dan menaksir biaya Rp 39.6 Trilliun, untuk memulihkannya.

Namun pro dan kontra menyeruak kemudian, ketika terdapat wacana jika Pemprov Kaltim ingin menalangi biaya perbaikan lingkungan lubang tambang itu lewat APBD Kaltim, bukan dari perusahaan Pertambangannya sendiri.

Dan akhirnya, pro dan kontra hanya membiarkan dan menghasilkan produk-produk lubang-lubang tambang baru yang tetap saja menganga, dan sangat mudah kita temukan di pinggiran kota/kabupaten di Kaltim.

Nasi memang sudah menjadi bubur? Namun jika benar merujuk pada data Jatam Kaltim atas luasan lubang tambang yang mencapai 1,32 juta hektare tadi. Bisa kita bayangkan dan berhitung berapa kubik air hujan yang mampu tertampung di sana. Dan ini merupakan potensi baru bukan? Iya potensi sumber daya air itu untuk dimanfaatkan.

Dan pekerjaan rumahnya kini adalah, mampukah kita menghargai air yang terdapat di dalam lubang tambang yang melimpah itu?

Harapannya dengan melihat fakta itu, memampukan kita mengemasnya sebagai bahan air baku, dan  menepiskan segera ancaman ketersediaan air kini dan masa depan kita nanti kan?

Saatnya bergerak menghargai air di area eks lubang tambang, yuk!

Nah, waktunya kini, saya ajak berjalan-jalan dahulu mengunjungi daerah di sekitar sungai Mahakam di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kukar! Di sana kita akan menjumpai sebuah desa yang bernama desa Loa Ulung.

Desa ini ya seperti desa pada umumnya, dimana daerahnya dihiasi dengan aktivitas pertanian.

Banyak sekali komoditas pertanian mulai digalakkan kembali, terutama persawahan dan perkebunan. Dan beruntung daerah ini –masih- sangat subur, dan berdekatan dengan sumber air sungai Mahakam yang mengalir sepanjang waktu.

Taman Gubang, wisata lubang tambang desa Loa Ulung Kaltim I Dokumentasi Pribadi
Taman Gubang, wisata lubang tambang desa Loa Ulung Kaltim I Dokumentasi Pribadi

Wilayah Loa Ulung dan sekitarnya dahulu sekitar tahun 90-an adalah daerah penghasil batu bara, dan kenangan manis itu bisa kita lihat lewat peninggalan lubang-lubang tambang yang terisi air asam tadi.

Melihat fakta itu, sama seperti daerah dengan lubang-lubang tambang yang tersebar di daerah lainnya di Kaltim. Dimana tidak ada hal yang dilakukan masyarakat untuk memanfaatkan air permukaan yang datang dari air hujan yang mengisi lubang tambang itu.

Karena ya permasalahan hadirnya kualitas air, yakni sifat fisik dan kimia air yang tidak memungkinkan memenuhi baku mutu, untuk dapat dimanfaatkan secara optimal.

Namun atas inisiatif warga desa Loa Ulung, semenjak tahun 2015 lalu,  warga desa Loa Ulung mulai memanfaatkan air lubang tambang itu untuk kegiatan keramba ikan, dan juga destinasi wisata yang diberi nama Taman Gubang.

Tapi, ada tapinya! Jika ditelisik lebih jauh, kegiatan keramba ikan di lubang tambang –disadari- tentulah tidak akan maksimal, terlebih untuk dikomersilkan.

Dimana secara teknis budidaya, dengan kondisi perairan yang bersifat asam tadi, pertumbuhan komoditas ikan tidak akan mampu tumbuh maksimal.

Selfi di Taman Gubang Kukar, Kaltim
Selfi di Taman Gubang Kukar, Kaltim I Dokumentasi Pribadi

Dan jikalau harus dipaksakan untuk dibesarkan, hanya jenis ikan tertentu saja yang mampu bertahan seperti ikan lele dan nila. Lalu, dengan pertumbuhan ikan yang ‘tidak normal’ pastilah membuat keengganan masyarakat luas untuk membudidayakan dan mengkonsumsi ikan produk keramba lubang tambang.

Karena mereka –masih- belum teryakinkan, guna memetik manfaat mengkonsumsinya, atas dasar media budidaya yang ‘tercemar’.

Sehingga, kegiatan budidaya keramba ikan di sana, ya hanya fokus untuk memenuhi kebetuhan internal masyarakat kecil saja, yang –masih- yakin, jika mengkonsumsi ikan keramba di area lubang tambang ya akan baik-baik saja.

Nah, dan yang –paling- menarik lagi adalah, hadirnya ide masyarakat desa Loa Ulung yang mampu menyulap area lubang tambang menjadi destinasi wisata yang diberi nama Taman Gubang, selama dua tahun terakhir ini.

Taman Gubang, wisata lubang tambang desa Loa Ulung Kaltim I Dokumentasi Pribadi
Taman Gubang, wisata lubang tambang desa Loa Ulung Kaltim I Dokumentasi Pribadi

Faktanya lubang tambang yang bentuknya menyerupai danau itu, sudah mampu memuaskan dahaga semua wisatawan yang datang untuk megobati kerinduan mereka dengan alam.

Mereka bisa berkeliling dengan sampan, dan menemukan biota apa saja yang mulai beradaptasi manja di lingkungan area lubang tambang. Hingga aktivitas bermancing ria di sana, memburu ikan endemik, seperti ikan tomang, mampu dilakukan.

Namun memang harus disadari, jika faktor safety berwisata di sana masih minim dipenuhi, dan –memang- harus terus disempurnakan lagi. Karena kedalaman lubang tambang pastilah membahayakan para wisatawan yang menghabiskan waktunya di sana.

Artinya, dari  dua hal itu saja, bisalah menjadikan modal dan bukti nyata bahwa kita masih bisa berbuat dan mampu menghargai air di dalam eks lubang tambang.

Ya meski untuk mendulang manfaat air permukaan lubang tambang masih terbatas untuk meningkatkan kegiatan ekonomi masyarkat, dalam hal menambah pendapatan harian mereka saja.

Mengandalkan air permukaan lubang eks tambang menunjang kehidupan masa depan!

Nah, pastilah kita percaya, jika perusahaan pertambangan juga –seharusnya- memiliki dan melakukan SOP yang luput menjadi persyaratan wajib, ketika melakukan operasi penambangan batu bara.

Dalam hal ini, kita percaya banyak pula perusahan besar pertambangan, telah mengupayakan limbah air penambangan batu bara menjadi layak. Dan selanjutnya dialirkan ke sungai, agar tidak berdampak negatif masyarakat yang menggunakannya.

Hal tersebut biasa dilakukan dengan mudah lewat proses pengapuran di settling pond area tambang yang terbagi dalam 3 ruangan.

Kolam inlet yang bisa digunakan sebagai proses pengapuran untuk meningkatkan PH air yang dialirkan dari lubang tambang.

Kolam kedua digunakan sebagai tempat pengendapan dan monitoring kualitas air, yang dialirkan dari kolam 1. Serta kolam ke-3 terdapat kolam outlet yang sudah menyulap air limbah layak menjadi air baku, yang siap diluncurkan untuk dibuang ke sungai.

Nah dalam Jurnal Geomine membuktikan di salah satu penelitiannya di lokasi perusahaan tambang di Kalimantan Timur.

Penelitian itu, menyebutkan jika lewat perlakuan pengolahan air tambang batu bara di settling pond Perusahaan yang aktif, mampu mengubah derajat keasaman yang tinggi menjadi normal dan layak sesuai pedoman baku mutu.

Taman Gubang, wisata lubang tambang desa Loa Ulung Kaltim I Dokumentasi Pribadi
Taman Gubang, wisata lubang tambang desa Loa Ulung Kaltim I Dokumentasi Pribadi

Hal tersebut dibuktikann lewat uji AHP (Analytic Hierarchy process) di water monitoring point (WMP) 22 lokasi pertambangan di Kaltim.

Pada pengamatan dan proses pengolahan air limbah tambang di settling pon itu, ternyata dapat menyulap air limbah tambang batu bara rerata ber-pH 6.68 dan nilai TSS 48.09 mg/liter, dan air baku itu siap untuk diluncurkan ke sungai.

Artinya dari model pengolahan air limbah tambang yang sederhana dan sudah dilakukan itu, seharusnya bisa saja terus tetap dilakukan, sampai saat ini kan? Meski perusahaan pertambangan sudah tidak beroperasi lagi –bahkan-

Oleh sebab itu, menurut saya, dengan ketidakmampuan Perusahaan dan Pemerintah menutup lubang-lubang tambang yang selalu terbentur dengan masalah pembiayaan.

Seharusnya terdapat cara terbaik untuk  menghargai air lubang tambang yang melimpah itu, agar bisa dimanfaatkan dalam memastikan keberlangsungan hidup masyarakat di sana. Terutama kepastian kita dalam akses penyediaan air yang layak.

Ada tiga hal yang bisa menjadi gagasan dan angan untuk dilakukan saat ini juga! Hal itu bisalah menjadi upaya kita untuk menghargai air di lubang eks tambang batu bara tadi. Apa saja itu? Mari!

1. Membangun dan menjalankan proses Settling pond untuk memproduksi air baku bagi Warga setempat

Nah fakta yang kita temukan saat ini adalah, lubang eks tambang terlihat dibiarkan saja menganga, ketika aktivitas pertambangan berhenti.

Padahal selama aktivitas penambangan batu bara, Perusahaan pertambangan sudah pernah mengusahakan pengolahan air tambang menjadi layak untuk dibuang ke sungai.

Meski ada yang berhasil, dan tidak sama sekali kan? Semua kembali kepada efektifitas proses supervisi pihak Pemerintah yang terkait.

Oleh sebab itu, seharusnya proses pengolahan air tersebut masih bisa dijalankan oleh masyakat sekitar.

Dan hal itu tentu saja bisa membantu masyarakat untuk berkegiatan apa saja. Terlebih hadirnya area lubang tambang tersebar merata pada daerah pinggiran yang merupakan lumbung pertanian.

Air baku yang sudah diolah mandiri tadi, juga bisa memberikan harapan lebih, untuk dimanfaatkan sebagai media budidaya perikanan secara layak dan komersil.

Desa Loa Ulung, Kukar, Kaltim yang masih asri dengan kegiatan usaha pertanian yang didukung oleh peran air permukaan dari sungai Mahakam I Dokumentasi pribadi
Desa Loa Ulung, Kukar, Kaltim yang masih asri dengan kegiatan usaha pertanian yang didukung oleh peran air permukaan dari sungai Mahakam I Dokumentasi pribadi

Tentu hal ini bisa memacu nilai UMKM yang lebih baik lagi, dalam konteks-konteks ekonomi masyarakat. Dan juga bisa menjadi sumber PAD daerah yang merangsang sektor perikanan dan pertanian warga. Karena kita pasti meyakini jika akan banyak kegiatan ekonomi atas pemanfaatan air baku ini kan?

2. Menjadikan air lubang tambang sebagi cadangan air baku Perusda PAM

Bagi masyarakat Kaltim yang berada di daerah perkotaan seperi Samarinda tentulah pernah merasakan betapa sulitnya menjalani kebutuhan dengan ketiadaan air, jika memasuki musim kemarau.

Di Samarinda meski terdapat sungai Mahakam yang menjadi andalan air baku, namun jua terkendala pada masalah kualitas air yang berubah-ubah.

Masalah air bangai –misalnya- dan juga proses intrusi air laut, di awal musim kemarau. Keduanya sudah menjadi fenomena yang kerap hadir, dan membuat PAM memberhentikan layanan pendistrbusian air berhari-hari lamanya.

Nah, oleh kehadiran air di lubang tambang yang melimpah. Paling tidak bisa menjadi sandaran PDAM daerah, untuk menjadikannya cadangan dan solusi untuk menjamin kepuasan pelanggannya di sepanjang waktu.

Tentu saja dengan melakukan proses pengolahan air lubang tambang sederhana cara di atas.

Hal itu menjadi logis dilakukan, dimana area lubang tambang mudah ditemuakan dan berjarak dekat dengan daerah kota Samarinda. Jadi tinggal pilih saja mana yang paling efektif dan efesien dilakukan.

3. Mendorong dan menjadikan Destinasi wisata lubang tambang dengan standar Safety terbaik untuk wisatawan!

Aktivitas destinasi wisata lubang tambang di taman gubang tadi bisalah menjadi model pada daerah lain yang jua memiliki kesamaan, dengan karakter area eks lubang tambang.

Namun dengan bukti antusias masyarakat yang sudah dibuktikan di Taman Gubang, tentulah harus menjadikan persiapan pelayanan yang lebih baik lagi kan? Terutama sisi Safety berwisata.

Dimana dengan standart safety berwisata di area lubang tambang akan memberikan jaminan keselamatan yang lebih baik lagi.

Dan jika berhasil, pastilah upaya ini akan menjadikan aktivitas ekonomi masyarakat di area lubang tambang bisa lebih berkembang lagi kan?

Rencana pengembangan Taman Gubang I Dokumentasi Pribadi
Rencana pengembangan Taman Gubang I Dokumentasi Pribadi

Nah tiga upaya di atas, yang belum banyak dilakukan saay ini.. Saya kira bisa menjadikan bayang-bayang dan angan kita bersama, dan mampu kita wujudkan sebagai upaya menghargai air yang semakin terancam keberadaannya.

Mungkin saat ini kita masih mampu berleha-leha dengan persediaan air layak yang cukup di sekitar kita, terutama kita yang tinggal daerah Kalimantan ini.

Namun sadarlah jika ancaman ketersediaan air layak akan terus menjadi permasalahan serius buat anak cucu, dan masa depan bumi kita nanti. Baiklah, selamat hari air sedunia tahun ini kawan!

#hariairduniaxxix2021 #mengelolaairuntuknegeri #sigapmembangunnegeri

Referensi

  1. Indra Wahyudin, Sri Widodo, Arif Nurwaskito. 2013. Analisis Penaganan Air tambang Batu bara. Jurnal Geomine Vol 6 No 2, Agustus 2018.
  2. Kaltimkece.id,” Mengurai Rp 2680 Trilliun nilai Batu Bara yang belasan tahun dikeruk di Kaltim ” 2 Agusutus 2019. < https://kaltimkece.id/warta/ekonomi/mengurai-rp-2680-triliun-nilai-batu-bara-yang-belasan-tahun-dikeruk-di-kaltim> Diakses 15 Maret 2021
  3. Kompas.com,”Ibu Kota Pindah Punya Air Banyak Tapi Struktur Tanah Kurang Stabil” 2019. <https://sains.kompas.com/read/2019/08/27/170200123/ibu-kota-pindah-punya-air-banyak-tapi-struktur-tanah-kurang-stabil?page=all#page4> Diakses 15 Maret 2021
  4. Kompas.com, “ Rahasia Alam Semesta Ada Berapa Banyak Air Di Bumi” 2019. <ttps://sains.kompas.com/read/2019/11/15/190400523/rahasia-alam-semesta-ada-berapa-banyak-air-di-bumi-?page=all> Diakses 15 Maret 2021
  5. Marlina Kaharapenni, Rudy Hendarwan Noor. 2015. Pencemaran Kulaitas Air Dari Adanya Potensi Air Asam Tambang Akibat Penambangan Batu Bara. Jurnal ITEKNA, Volume 15 No 2, November 2015. 156-160

error: Content is protected !!