Tourism and Environment Talks

Menikmati Pesona Nusantara, Via Transaksi Digital Perbankan Yuk!

Museum Samarinda

Pandemi pastilah mengajarkan banyak kemudahan dan manfaat bertransaksi via Digital Perbankan guna memenuhi segala kebutuhan kita kan? Terlebih di masa pasca Pandemi nanti, Digital perbankan tentu akan memanjakan dendam kita untuk keluar berwisata, setelah lama terkurung di rumah saja. Siaap kah?


Mengenang pesona Nusantara di masa Pandemi boleh gak ya? Mencoba mensesap kembali keseruan wisata alam dan wisata budaya yang tersebar di 34 Provinsi, 416 kabupaten, 98 kotamadya, 7.094 kecamatan, 8480 kelurahan dan 74.957 desa di Nusantara. Pilih yang mana ya?

Lalu bolehkah, saya ajak ke Kalimantan Timur saja ya? Calon IKN baru kita. Pilihan itu bisalah menjadi fokus untuk memulai khayalan akan pesona wisata Nusantara tadi.

Dan selanjutnya, membuat kita bisa berikrar –meski dalam hati saja- semoga bisa dimampukan berwisata di Kaltim, suatu saat nanti.

Hitung-hitung sekaligus menguji nyali kita, membuktikan pameo lama. Bila kita sudah menginjakkan kaki di Banua Etam Kaltim, dan meminum air sungai mahakam,  katanya kita bakalan susah beranjak pulang dari Kaltim deh.

Museum Samarinda yang memajang banyak galeri budaya Samarinda I Dokumentasi Pribadi
Museum Samarinda yang memajang banyak galeri budaya Samarinda I Dokumentasi Pribadi

Dan kejadian itu –terkadang- benar lho, bak virus yang tidak dikenal, yang akan menulari hati kita untuk lekas mudah mencintah.

Ah namun, jika pameo ini –memang- benar kita rasakan, bisalah menjadi bonus yang menarik, untuk terus datang di mari kan?

Nah, awal tahun 2021, seorang sahabat yang berdomisili di pulau Jawa tetiba chat ke saya. Dia harus membatalkan rencana ketiganya buat berwisata di Kaltim.

Alasannya klise, suasana Covid masih tinggi, dan memaksa dia harus berada di rumah saja deh.

Namun, seraya tak menyerah, dia menitipkan pesan kepada saya yang kebetulan berdomisli di Kaltim.

Dia meminta saya untuk dapat mengirimkan paket kerajinan tangan manik-manik khas suku dayak, kerupuk amplang dan jua olahan mandai asal Samarinda.

Gelang manik khas adat dayak I IG @manik_dayak_kalimantan
Gelang manik khas adat dayak I IG @manik_dayak_kalimantan

Saya mbatin , pastilah dia terpapar unknown-virus yang menyerang tepat di hatinya itu sekarang? Dan dia sedang tersiksa merasakan jika rindu itu beraat.

Ya rindu untuk bisa kembali ke Banua etam Kalim, setelah –mungkin- ‘nekat’ meminum air sungai Mahakam?

Dan pertanyaan kedua dalam hati saya, adalah kok dia tidak pesan via online saja barang-barang tadi? Kan banyak di e-commerse menyediakan pernak-pernik kerajinan khas kalimantan? Tapi ya entahlah!

Desa Pampang, desa wisata idaman Banua Etam!

Ah, pikirku lantas jauh melayang pada desa Pampang, salah-satu destinasi wisata di Samarinda, Kaltim yang –memang- sangat mudah dikunjungi.

Desa Pampang, bagi saya, bisa menjadi sebuah paket wisata komplit yang menyajikan destinasi wisata budaya plus wisata alam nan eksotis khas Kalimantan.

Nah di desa Pampang kita bisa menjumpai sebuah lamin, namanya lamin Pamun Tawai, ya sebutan lain dari rumah adat dayak.

Di tempat ini akan tersaji tarian dan upacara adat dayak kenyah.

Lamin Pamun Tawai I Koleksi photo celebes.co
Lamin Pamun Tawai I Koleksi photo celebes.co

Rumah adat dayak ini sendiri cukup istimewa karena dominasi bahan bangunannya terbuat dari kayu ulin yang memajang hiasan dan ukiran khas dayak. Atapnya terbuat dari kayu sirap dengan ukiran kokoh di tengah atap dan sudutnya

Di sini kita akan terhibur olah banyak tarian adat dayak, ada tari Bangen Tawai, Kanjet Anyam, Ajay Pilling, Kancet Lasan, Nyalama Sakai, Kancet Punan Lettu dan lain-lain.

Sajian tarian di dalam lamin Pamun Tawai I Koleksi celebes.co
Sajian tarian di dalam lamin Pamun Tawai I Koleksi celebes.co

Semua hiburan tadi langsung dimainkan oleh warga asli desa Pampang. Dan jangan lupa setelah melahap semua tariannya. Kita bisa bisa segera ber-swa photo dengan wanita bertelinga panjang, yang jua warga asli suku dayak.

Wanita bertelinga panjang khas adat dayak yang bisa kita jumpai di desa Pampang Samarinda I koleksi IG @exotickaltim
Wanita bertelinga panjang khas adat dayak yang bisa kita jumpai di desa Pampang Samarinda I koleksi IG @exotickaltim

Selanjutnya, desa Pampang akan mempersilahkan kita mengoleksi berbagai kerajinan tangan, ukiran adat dayak yang eksotis dan jua makanan khas daerah.

Sembari pastinya kita jua bisa menikmati wisata alam desa Pampang yang tak kalah eksotis terutama panorama sungai desa Pampangnya itu.

Bisakah berwisata di tengah Pandemi?

Namun, ya seperti tempat wisata lainnya! Selama Pandemi, destinasi wisata Pampang terpaku lockdown.

Dan memaksa semua warga Pampang yang dahulu menggantungkan hidupnya dari aktivitas wisatawan, harus kembali sibuk berkebun, guna menyambung hidupnya.

Dan bersyukur, ketika saya berkunjung ke sana ternyata masih terdapat beberapa warga desa, yang masih menjual kerajinan tangan khas dayak, dengan menggelar barang dagangan tadi di depan rumah mereka.

Kalung manik khas kalimantan I koleksi IG @manik_dayak_kalimantan
Kalung manik khas kalimantan I koleksi IG @manik_dayak_kalimantan

Dan akhirnya, saya bisa bertransaksi langsung atas barang kerajinan tangan tadi, dengan menyerahkan uang tunai kepada penjualnya.

Padahal sebelum Pandemi, banyak pihak ketiga di luar dari warga Pampang  mengoleksi barang kerajinan tadi, dan menjajakannya kembali semua pernak-pernik khas desa Pampang, lewat media sosial, dan e-commerse.

Dan cara ini memang efektif bagi kita untuk mendapatkan pernak-pernik desa Pampang dari mana saja. Kita hanya tinggal pesan dan bayar via transfer Bank, menunggu kurir yang mengantarnya. 

Meski ya –memang- harganya agak mahal sih, daripada kita membelinya langsung di mari.

Nah dengan lesunya aktivitas wisata di Pampang ini, membuktikan Pandemi –memang-sudah berhasil menggerus produktivitas atas barang-barang entitas daerah wisata, yang biasa dihasilkan oleh banyak pelaku UMKM ekonomi kreatif. di desa Pampang ini.

Kerupuk amplang khas Samarinda I koleksi IG @amplang.samarinda
Kerupuk amplang khas Samarinda I koleksi IG @amplang.samarinda

Dan hal itulah yang membuat saya bertanya dalam hati lagi. Siapakah nanti yang bisa memadamkan bara Pandemi yang terus berlangsung ini, dan lekas membangkitkan kembali ekonomi masyarakat di sana, selain kita. Eh kita? Memang kita bisa apa?

Menteri Pariwisata Indonesia baru, sebuah harapan baru?

Nah, sudah rahasia umum sih, jika lesunya industri wisata ternyata juga terjadi di pelosok nusantara kan?

Parameter utamanya bisa dilihat dari jumlah wisatawan mancanegara yang lalu-lalang berwisata saat ini.

Dirjen Imigrasi Kementrian Hukum dan HAM mencatat terdapat 800-ribuan sampai satu juta wisatawan mancanegara pada Februari sampai Maret 2020.

Setelah Maret 2020, jumlah tersebut kian menyusut menjadi 150 ribuan wisatawan mancanegara yang menyambangi Nusantara. Sekarang mungkin tambah menyusut lagi.

Ilustrasi
Sumber data : katadat.co.id

Pengaruh Pandemi memang dahsyat ya? Klimaknya,  per-7 April 2020, sudah ada 10.946 usaha pariwisata terdampak dan 30.421 tenaga kerja wisata kehilangan pekerjaanya.

Dalam rilisnya, PHRI mencatat ada 2ribu hotel dan 8ribu restoran berhenti selama kebijakan PSBB. Mungkin sekarang jua lebih lagi ya efeknya?

Dan fenomena ini tentu saja memberikan evaluasi serius Pemerintah kepada perbaikan industri wisata untuk segera bangkit, meski memang sangat sulit dikerjakan di tengah Pandemi.

Dan keseriusan Pemerintah itu nampaknya nyata, dengan pelantikan Bapak Sandiaga Uno sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang baru, menggantikan Bapak Wisnutama, akhir tahun 2020 lalu.

Bapak Whisnutama, dahulu jua pernah memaparkan bagaimana ironisnya potensi wisata Indonesia yang tertinggal dengan Singapura (20 juta wisatawan) Malaysia (25 juta wisatawan) dan Thailand (39 juta wisatawan). Padahal luasan wilayah negara mereka jauh lebih kecil dari Indonesia.

Catatan ini memang bisa menjadi misteri untuk diwujudkan, dan sekaligus pekerjaan rumah untuk Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang baru kan?

Dan di masa Pandemi, tentu kita hanya bisa berharap dan berkolaborasi bagaimana pelaku ekonomi kreatif dan pelaku wisata harusnya tetap bisa produktif.

Dalam konteks berupaya-keras menguatkan bangunan ekonomi Nasional. Ya lewat akselerasi percepatan ekonomi di sektor pariwisata ini. Tapi apakah kita mampu? Haa.. kita lagi?

Dunia Digital yang melengkapi pesona Indonesia

Ah beruntung sekali -saya katakan- bagi siapa saja, yang masih bisa berwisata kemana-mana pas Pandemi ini.

Dan tak jarang mereka yang beruntung tadi, akan ringan tangan, membagikan keasikan pengalaman berwisatanya, lewat wisata virtual tipis-tpis, yang dipajang di akun media sosial.

Dan saya yakin sudah membuat ‘cemburu’ teman dan para followersnya di halaman medos mereka.

Hal serupa jua mudah kita buktikan kok, intip saja laman media-sosial Menteri Pariwisata kini @sandiuno, dimana beliau jua gencar menggelar wisata virtualnya, mengenalkan banyak pesona Nusantara yang dia singgahi.

Menteri Pariwisata Sandiaga Uno sedang mengenalkan wisata Mandalika dengan berjogging ria I @sandiuno
Menteri Pariwisata Sandiaga Uno sedang mengenalkan wisata Mandalika dengan berjogging ria I @sandiuno

Galeri pesona wisata yang terpajang di dunia maya, tentulah harapannya bisa efektif pula mempromosikan produk UMKM sebagai entitas tempat wisatanya, berupa paket oleh-oleh setelah berwisata ke sana.

Namun semua bisa saja percuma? Karena kebijakan pengetatan aktivitas wisatawan PSBB/PPKM, masih menjadi sandungan mendatangkan wisatawan dan menghadirkan eksistensi UMKM ekonomi kreatif. Meskipun, tempat wisatanya menerapkan protokol kesehatan.

Namun dengan passion masyarakat yang kini fasih memainkan manfaat teknologi digital saat Pandemi. Semuanya pastilah membuat optimisme atas target Kementrian Pariwisata yang berniat mendatangkan jumlah wisatawan 18 juta-20 juta orang pertahunnya.

Harapan terpentingnya adalah mereka bisa memborong produk/jasa UMKM ekonomi kreatif masyarakat yang dipajang di tempat-tempat wisata tadi.

Pesona wisata Mandalika I IG @sandiuno
Pesona wisata Mandalika I IG @sandiuno

Terlebih, kini istilah Quality tourism menjadi ambisi baru dalam mewujudkan hal itu, yakni hadirnya kolaborasi Kementrian Pariwisata dengan Kementrian Komunikasi dan Informatika, Kementarian Pekerjaan Umum, serta juga peran vital Bank Indonesia.

Sampai di sini, seharusnya kita sudah bisa menebak, apa dan bagaimana sikap kita yang bisa dilakukan, menjawab pertanyaan menggantung di atas.

Soal bisa apa kita dalam ikut membangkitkan ekonomi di tengah Pandemi kan?

Langkah nyatanya tentulah menjadikan diri kita sebagai pelaku ekonomi kreatif dan/atau konsumen, yang aktif bertransaksi produk UMKM apa-saja secara cashless di tengaah Pandemi ini.

Langkah sederhana nan nyata ini pastilah berpotensi membuka dan mendukung peluang kolaborasi Perbankan dalam mendukung kebangkitan ekonomi. Kok bisa? Yes baca terus ya!

Menjamu bangkitnya UMKM wisata kita, lewat permodalan, pasca Pandemi?

Permodalan Perbankan yang berasal dari simpanan nasabah, tentulah menjadi nafas banyak UMKM ekonomi kreatif, untuk bisa beraktivitas menantang Pandemi kini.

Meski kondisi PSBB/PPKM menjadi sandungan menggeliatkan potensi ekonomi daerah wisata.

Catatan Bank Indonesia, penyaluran kredit Perbankan Desember 2020, hanya sebesar Rp 5482.5 trilliun. Nilai kredit pada Desember 2020 lalu, menurun dari minus 1.7% pada November 2020.

Penyebabnya, masih enggannya para debitur koorporasi mengambil aksi kredit Perbankan, dan perlambatan kredit perorangan.

Melihat fenomena ini, Bank Indonesia, juga mempertahankan suku bunga acuan atau BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 3.75%. Suku bunga deposito Facility sebesar 3%. Serta suku bunga lending facility sebesar 4.5%.

Kebijakan itu harapannya bisa mengundang massifnya kredit di Perbankan, guna mereset usaha apa-saja, lewat tawaran permodalan kredit berbunga rendah.

Dan lewat kebijakan ini, BI pastilah sadar, jika kebijakan tadi beresiko-kan?

Mengingat resiko gelembung, yang jua pernah menyebabkan krisis keuangan Global 2008 lalu. Dimana Perbankan pada saat itu jua asik melayani permintaan kredit properti yang tinggi, sehingga pada titik tertentu, terjadilah gagal bayar debitur. Dan berpengaruh pada institusi keuangan lain secara sistemik.

Momen itulah, yang menjadi alasan jika penyaluran permodalan perbankan kepada Debitur pastilah diperhatikan, termasuk lewat pelonggaran kebijakan Makroprudensial BI.

Yakni kebijakan kehati-hatian terhadap faktor resiko transaksi pembayaranan Perbankan.

Namun, Fenomena positif melonjaknya transaki digital e-commerce, menjadi secercah harapan bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.

E-commerse Tokopedia misalnya, mencatat adanya pertambahan 10 juta pengguna aktif bulanan selama Pandmei, menjadikan konsumen digitalnya 100 juta pelanggan. Pelapaknya-pun bertambah 2.7 juta, kini Tokopedia memiliki 9.9 juta pelapak.

Ini sebuah optimisme baru, jika Perbankan layak menyuntikkan permodalan kepada pelaku UMKM di masa Pandemi sekalipun. Utamanya, menjadikannya dukungan terhadap perkembangan banyak kanal e-commerse lainnya.

Dalam konteks industri pariwisata, kanal e-commerse berperan penting menitipkan banyak produk olahan oleh-oleh wisata yang bisa dipesan dengan mudah, sebagai obat penahan rasa rindu berwisata wisatawan, yang dipisahkan jarak dan waktu.

Kebijakan BI, mendorong transaksi industri wisata, lewat kanal digital!

Nah melihat fenomena positif tadi, yakni massifnya masyarakat akan layanan digital perbankan.

BI lantas  berasumsi positif, pada kenaikan transaksi e-commerce sebanyak 33.2% dari Rp 253 Trilliun di 2020 lalu menjadi Rp 337 Triliun di tahun 2021 mendatang.

Implikasi asumsi itu, tentu akan sejalan dengan naiknya permintaan layanan pembayaran digital perbankan. Dimana memprediksi transaksi layanan digital akan melompat dari Rp 27.036 Triliun pada 2020 menjadi Rp 32.206 Triliun pada 2021 mendatang.

Nah angka-angka ini tentulah sangat penting Bagi BI kan? Dimana nilai prediksi ini menjadikan upaya penguatan BI sebagai Bank sentral yang memiliki peran penting dalam mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran transaksi.

Aturan itu meliputi pengaturan penggunaan alat atau intrumen pembayaran, serta izin penyelengaraan jasa sistem transaksi pembayaran.

Dari narasi ini, kita bisa menebak bagaimana wujud BI berkolaborasi dalam menguatkan akselerasi pertumbuhan ekonomi di sektor Pariwisata tadi kan?

Nah, kemudahan membuka/menjalankan UMKM serta memanja wisatawan, adalah dua kata kunci yang dibidik BI, dalam  upaya kolaborasi tadi.

Jika Kementrian Pariwisata sudah menyiapkan SDM Pariwisata dan potensi-potensi wisata yang menarik. Lalu, Kementrian Pekerjaan umum tentulah jua bersiap akan infrastruktur tempat wisata yang layak.

Serta Kementrian Komunikasi dan Informasi harus menyiapkan fasilitas kesiapan hadirnya internet dan berbagai layanan platform e-market/promosi digital tempat-tempat wisata.

Akhirnya, Bank Indonesia menutupnya dengan jaminan keamanan dan kemudahan para pelaku ekonomi kreatif UMKM wisata dan wisatawannya, dalam hal bertransaksi Digital Perbankan atas barang/jasa wisata.

Nah sebagai turunan dari kebijakan Makroprudensial dalam konteks besar menjaga stabilitas sistem keuangan (SSK).

BI pun sudah menyiapkan kanal pembayaran digital perbankan yang pastilah otomatis dapat dinikmati oleh nasabah Perbankan, yang telah menyimpan dananya di Perbankan.

Seperti sistem transaksi pembayaran cashless, yang bisa digunakan dalam transaksi maya dan nyata, apa saja! Mari saya tunjukkan!

Ternyata kita bisa berkolaborasi, membangkitkan ekonomi via digital perbankan kok!

Nah semua hal di atas tentulah akan memberikan pemahaman, jika kita ternyata bisa kok ikut mendukung akselerasi penguatan pertumubuhan ekonomi di masa Pandemi ini kan?

Dimana tanpa sadar, aktivitas transaksi harian kita, selama di rumah saja, lewat bertransaki digital-perbankan ternyata sudah membantu memutar roda ekonomi nasional untuk terus bergerak.

Nah gampangnya, terdapat empat langkah kita untuk bisa memulai dan menunjukkan dukungan kita itu!

Dalam hal ini, menunjukkan wujud kolaborasi kita bersama menantang Pandemi, dan akhirnya mampu mengembalikan kejayaan ekonomi kita lagi.

1. Segera buka rekening di Bank

Sikap inklusif menerima jasa Perbankan, menjadi pertanda dimulainya niatan kita tadi kan?

Sekarang, kita bisa memilih tabungan Syariah atau tabungan konvesional, sebagai media menyimpan dana kita dengan aman di Bank. Mana yang menurut kita paling kita suka?

Dan pastilah kedua jenis tabungan tadi, akan sama baiknya dari sisi manfaat dan jua aman.

Selanjutnya, dari simpanan kolektif semua para nasabah Perbankan, termasuk kita dapat jua digunakan sebagai permodalan bagi banyak UMKM untuk tumbuh lebih banyak lagi. Sampai di sini, kontribusi kita pastilah amat berharga kan?

2. Menggunakan ATM dan Internet Banking Perbankan sebagai media transaksi digital

Nah setelah menjadi nasabah, tentu saja nikmat bertransaki digital segera kita rasakan! Salah satu hal yang umum adalah, penarikan dana via ATM 24 jam di mesin ATM yang tersebar di penjuru kota/desa.

Selain menarik dana tunai, terdapat jua fasilitas untuk bisa transfer-transfer dana untuk berbagai keperluan, kemana saja dan dari mana saja.

Jika mesin ATM sulit didapatkan! Kita juga bisa memanfaatkan Property channel, yakni kanal pembayaran yang dikembangkan oleh Bank secara eksklusif.

Tentunya, fasilitas ini dapat pula digunakan pada berbagai keperluan transaksi cashless kita.

Fasilitas tadi, bisa berupa short messege service, mobile-web, subriber identitiy module tool kit, dan/atau unstrucured supplementary service data.

Nah dengan bantunan jaringan internet, kita bisa mudah menjamah dan memanfaatkan semua fasilitas ini lewat Gawai kita ini, memanfaatkan aplikasi Perbankan.

3. Merencanakan pengunaan keuangan yang lebih baik via Dompet Elektronik!

Nah, kanal pembayaran ini pastilah sangat inn kita manfaatkan ya? Dimana dengan dompet-elektronik kita bisa bebas bisa mengisi saldo dana kita sesuai dengan budget kebutuhan dan keinginan kita yang –biasanya- telah terjadwal.

Biasanya Developer jasa dompet elektronik ini telah terdaftar, dan banyak memberikan promo lewat transaksi di merchant/toko yang bekerja sama dengannya.

Hal inilah yang jua memberikan kenyamanan dan kemudahan berbelanja lewat kanal dompet elektronik.

Berbagai layanan pembayaran rutin bulanan jua bisa segera kita rasakan di sana, pastilah tanpa harus mengantre lagi di loket pembayaran ya?

4. Pembayaran Cashless, dengan menggesek, menekan, dan menscan barkode!

Nah ketika berstatus sebagai nasabah Bank, kita jua pastilah sudah dapat menggunakan kartu ATM/debet kita pada proses pembayaran di merchat/toko yang menyediakan semua kebutuhan dan keinginan kita itu.

Dan cara ini akan mengajarkan kita untuk dpat bertransaki cashless, yang tidak melulu menggunakan dana tunai.

Ilustrasi kartu kredit I Dokumentasii pribadi
Ilustrasi kartu kredit I Dokumentasii pribadi

Merchant atau toko yang bekerja sama dengan Perbankan, pastilah sudah dilengkapai dengan Payment Gateway, yang mempersilahkan kita menggesek segala jenis kartu/alat pembayaran yang dikeluarkan Perbankan dengan mudah.

Termasuk kartu debet dan kartu kredit. Selanjutnya, tinggal klik ok saja, setelah menggeseknya.

Dan yang terbaru dikembangkan adalah, layanan QRIS. Dimana, kini semua penyelenggara jasa sistem pembayaran yang menggunakan QR Code pembayaran wajib menerapkan QRIS ini.

Nah lewat QRIS kita bisa bertransaksi diigital perbankan dengan mudah lewat aktifitas scanning barcode di merchant  penjualaan barang/jasa baik berada di ruang maya dan nyata.

Selanjutnya, layanan bertransaksi digital, tanpa uang tunai juga kita bisa lakukan di rumah saja! Dengan fasilitas Switching yang terkoneksi pada layanan e-commerse.

Lewat infrastruktur Switching ini, akan menjadi pusat dan/atau penghubung penerusan data transaki pembayaran melalui jaringan yang menggunakan alat pembayaran dengan menggunakan kartu, uang elektronik dan/atau transfer-transferan dana.

Eh, Bagaiamana, berani berwisata ke Kaltim sekarang gak?

Hem, saya masih mencoba menaksir jawaban atas pertanyaan saya di awal tulisan sih.

Yakni mengapa sahabat saya, harus capek-capek memesan paket oleh-oleh dari Samarinda melalui saya? Dan tidak langsung, memesannya via e-commerse ya?

Olahan Mandai krispi oleh-oleh Kalimantan I IG @mandainoor
Olahan Mandai krispi oleh-oleh Kalimantan I IG @mandainoor

Jika berfikir positif, tentu saja jawabannya gampang! Mungkin dia belum menjadi nasabah perbankan?

Atau mungkin saja, dia belum mengetahui fitur perbankan, atas kanal pembayaran digital perbankan yang bisa digunakan saat ini. Iya digital-perbankan yang menjadi kanal pembayaran syah BI.

Jika satu dari dua jawaban tadi benar, pastilah agak sulit bagi dia mengarungi dinamika kehidupan yang terjadi dewasa ini kan?

Terlebih lagi, jika dibenturkan dengan aktivitas masa Pandemi, dan kontribusinya untuk ikut membangkitkan ekonomi yang terpukul kini.

Namun, jika dia memang telah memiliki simpanan cukup di Perbankan. Seharusnya memudahkan dia berbelanja cashless atau tanpa uang, jauh lebih terkontrol, serta aman lewat segala fasilitas Perbankan.

Selanjutanya, dalam konteks membangkitkan ghiroh berwisata di kala Pandemi, tentu saja digital Perbankan akan lebih memanjakannya lho!

Misalkan saja, dengan fasilitas Perbankan. Kita bisa merncanakan perjalanan kita jauh hari ke depan, dengan memesan tiket penerbangan, lewat aplikasi Maskapai penerbangannya.

Lalu dengan mudah membayar orderan tiket pesawat kita  dengan cashless, lewat kartu debet atau kartu kredit. Begitu juga dengan pembayaran jasa akomodasi hotel, ketika sudah datang dimari.

Dan untuk berbelanja di tempat wisata, akan lebih mudah lagi-kan?

Terlebih infrastruktur dan fasilitas merchant/toko di banyak tempat wisata Nusantara. Pastilah telah di-upgrade Pemerintah, untuk mudah menerapkan transaksi cash-less tadi lewat digital perbankan!

Pembangunan Jembatan Tenggarong yang sempat ambruk, kini berdiri megah di tepian kota Tenggarong I IG @exotickaltim
Pembangunan Jembatan Tenggarong yang sempat ambruk, kini berdiri megah di tepian kota Tenggarong I IG @exotickaltim

Atau jangan-jangan, chat dia cuman hanya hal ketebelece saja? Sebagai lanjutan dari perkenalan kami?

Ahh, jika benar begitu, saya berhak ge-er dong? Aduh, dan apa mungkin dia sudah benar-benar tertular unknown-virus, setelah berwisata di Banua Etam Kaltim?

Tuh-kan, efek berwisata pastilah berantai jadinya! Dan bisa memberikan sesuatu kejutan dan pengalaman yang mungkin saja tidak terlupakan.

Jodoh? Mungkin sajakan, hiks! Jadi kapan kamu berwisata ke Kaltim? Kangen nih!

Ilustrasi I Koleksi @exotickaltim
Ilustrasi I Koleksi @exotickaltim

*Artikel ini dikuitkan dalam Bank Indonesia Blog Competititon dengan tema “Yuk manfaatkan, transaksi digital untuk kemajuan ekonomi nasional”

error: Content is protected !!